Posted in

Pikirkan Kembali Apa yang Akan Membuatmu Bahagia: Menyelami Buku “Stumbling on Happiness”

Buku Stumbling on Happiness karya Daniel Gilbert bukanlah buku self-help biasa yang menjanjikan jalan ajaib menuju kebahagiaan abadi. Sebaliknya, buku ini adalah eksplorasi yang menarik, sering kali humoris, dan kadang-kadang membuat merasa tidak nyaman tentang mengapa kita begitu buruk dalam memprediksi apa yang sebenarnya akan membawa kita kebahagiaan. Bersiaplah untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang selama ini Anda pegang saat menjelajahi labirin pikiran Anda sendiri.

Lupakan mengandalkan logika dan alasan semata ketika berbicara tentang kebahagiaan. Gilbert mengungkapkan kenyataan yang tidak nyaman: pengalaman dan prediksi Anda tentang pengalaman tersebut sering kali beroperasi dalam realitas yang terpisah. Anda mungkin berpikir bahwa mendapatkan pekerjaan impian akan membuka pintu kebahagiaan seumur hidup, hanya untuk menemukan diri Anda stres, terlalu banyak bekerja, dan merindukan masa-masa yang lebih sederhana. Mengapa demikian? Karena ada sesuatu yang disebut Gilbert sebagai “impact bias.”

Impact bias adalah kecenderungan Anda untuk melebih-lebihkan intensitas dan durasi reaksi emosional Anda terhadap peristiwa yang akan datang. Anda membayangkan kemenangan lotre akan membangkitkan kebahagiaan murni yang berlangsung selamanya, atau putus cinta yang menghancurkan akan membuat Anda terpuruk dalam keputusasaan yang permanen. Namun, yang Gilbert tunjukkan adalah bahwa otak kita sangat tahan banting. Kita beradaptasi, merasionalisasi, dan bahkan mendefinisikan ulang situasi untuk mengurangi dampak negatif dan menjaga tingkat kebahagiaan yang relatif stabil. Anda tidak akan terjebak dalam kehidupan yang penuh penderitaan setelah gagal ujian itu – “sistem kekebalan psikologis” Anda akan bekerja, membantu Anda untuk menghadapinya dan terus melangkah maju.

Namun, jika kita begitu mudah beradaptasi, mengapa kita begitu buruk dalam memprediksi apa yang akan membuat kita bahagia? Gilbert menyoroti beberapa kekeliruan utama yang membuat kita salah langkah.

Realism: Anda cenderung percaya bahwa keadaan saat ini adalah cara hidup Anda selamanya. Anda menganggap bahwa selera, preferensi, dan keadaan Anda saat ini akan tetap konstan, sehingga Anda membuat keputusan berdasarkan versi diri Anda yang statis, yang sebenarnya tidak ada.

Presentism: Anda memproyeksikan perasaan Anda saat ini pada diri Anda di masa depan. Sebuah potongan kue coklat yang menggoda mungkin tampak tak tertahankan saat ini, sehingga Anda menganggap diri Anda di masa depan juga akan merasa senang dengan itu, tanpa memperhitungkan potensi penyesalan dan kelelahan gula nanti.

Rasionalisasi: Anda cenderung mencari cara untuk membenarkan pilihan-pilihan masa lalu Anda, meskipun pilihan tersebut sebenarnya buruk. Anda mungkin meyakinkan diri sendiri bahwa Anda benar-benar menikmati maraton yang melelahkan itu, meskipun setiap sel tubuh Anda berteriak kesakitan selama perlombaan. Rasionalisasi ini dapat merusak ingatan Anda tentang kejadian tersebut, membuat Anda lebih mungkin mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Saat membaca buku ini, Anda kemungkinan akan mulai menyadari bias-bias ini muncul dalam hidup Anda sendiri. Anda akan mulai mempertanyakan asumsi-asumsi Anda tentang apa yang dimaksud dengan “kesuksesan” dan “kebahagiaan.” Anda bahkan mungkin mendapati diri Anda merasionalisasi keputusan buruk baru-baru ini.

Lalu, apa kesimpulannya? Apakah Anda terjebak selamanya dalam mengejar kesenangan sementara berdasarkan prediksi yang salah? Tidak sepenuhnya. Gilbert memberikan wawasan berharga tentang bagaimana menavigasi kompleksitas kebahagiaan:

  1. Dengarkan orang lain: Alih-alih mengandalkan imajinasi Anda sendiri, perhatikan pengalaman orang lain yang sudah “pernah berada di sana.” Cerita mereka, meskipun tidak sempurna, menawarkan data yang lebih dapat diandalkan daripada prediksi bias Anda sendiri.
  2. Terima ketidakterdugaan: Terimalah bahwa hidup ini pada dasarnya tidak dapat diprediksi. Jangan terlalu keras berpegang pada rencana dan harapan Anda, karena ini hanya akan membuat Anda kecewa ketika kenyataan menyimpang dari jalur yang Anda bayangkan.
  3. Fokus pada pengalaman, bukan kepemilikan: Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pembelian yang berfokus pada pengalaman (berlibur, konser, mempelajari keterampilan baru) cenderung membawa kebahagiaan yang lebih tahan lama daripada barang-barang materi.

Stumbling on Happiness bukanlah solusi instan. Ini adalah ajakan untuk secara kritis memeriksa asumsi Anda tentang kebahagiaan, memahami bias kognitif yang mengaburkan penilaian Anda, dan akhirnya membuat pilihan yang lebih bijak yang benar-benar selaras dengan nilai dan kesejahteraan Anda. Anda mungkin akan menemukan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dicapai melalui hasil yang direncanakan dengan sempurna, melainkan sesuatu yang Anda temui secara tidak sengaja sepanjang perjalanan hidup Anda. Jadi, mulailah tersandung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *